Oleh: sangabid | Maret 26, 2009

menguak takdir

Iqraa …, Membaca Tabir Menguak Takdir …

Kita dibuat tidak sadar dalam keadaan hidup oleh Allah selama berabad-abad. Umat islam seperti berada dalam masa-masa hibernate mulai dari tahun 1200-an sampai dengan abad ke 20, bahkan mungkin sampai sekarang ini. Sehingga kitapun kemudian menjadi tabir Allah tempat Allah berbicara kepada umat-umat sesudah kita tentang contoh orang-orang yang tidak bersyukur. Sebab dengan melihat tabir Allah pada diri kita, sebenarnya saat itu Allah sedang berbicara kepada orang lain tentang nestapa diri kita:

“Wahai hamba-Ku …, lihatlah sebagian besar dari hamba-hamba- Ku itu. Lihatlah …, walaupun mereka mengaku beriman kepada-Ku, walaupun mereka mengaku telah menjalankan segala ibadah kepada-Ku, walaupun mereka mengaku telah mengikuti contoh dari Rasul-Ku sampai ke hal-hal terkecil sekalipun, walaupun mereka telah telah hafal ayat-ayat-Ku yang kutaruh di kitab Al Qur’an dan hafal pula wejangan-wejangan Rasul-Ku Muhammad SAW, akan tetapi saat mereka tidak mau membaca dan mendengarkan pembicaraan- Ku yang Ku-tarok di berbagai tabir-Ku, maka mereka tetap saja akan menjadi orang yang berada dalam kegelapan hidup ditengah-tengah kecemerlangan dunia yang kuberikan kepada mereka untuk mereka kelola dengan baik. Mereka tidak mampu menyandang predikat sebagai wakil-Ku, wali-Ku, kurir-Ku, agent-Ku, distributor- Ku untuk menghantarkan rahmat-Ku bagi seluruh alam dan isinya.

Mereka malah akan menjadi bulan-bulanan, jadi bahan olok-olokan, menjadi contoh yang sulit untuk ditiru oleh orang-orang yang mendambakan kesempurnaan.

Kau lihatlah wahai hamba-Ku …, ambillah mereka sebagai contoh dan pelajaran dari-Ku, sebagai tabir-Ku tempat Aku mengalirkan kebodohan kedalam otak dan dada mereka..”. Wallahu a’lam.

Sementara umat lain yang kita sebut sebagai orang yang tidak beragama islam di Barat dan di Timur Jauh sana, malah mereka seperti keteteran menerima curahan pencerahan dari Allah tanpa henti di berbagai tabir-Nya. Tiada hari tanpa penemuan baru yang mereka dapatkan. Ada teknologi baru, ada pendapat baru, ada pemahaman baru, bahkan ada tabir-tabir baru yang mereka temukan dalam setiap langkah yang mereka lalui.

Namun begitu, sayang sekali mereka tetap saja belum berada dalam kesempurnaan seperti yang diinginkan oleh Allah.. Sehingga merekapun, tanpa mereka sadari, sebenarnya sedang menjadi tabir Allah pula tempat dimana Allah berbicara kepada orang-orang yang mau mendengarkan Allah berbicara kepadanya. Mereka ada tabir si Merugi. Karena dalam kehebatan mereka membaca tabir, mereka sepertinya tetap berputar-putar berada dalam cover yang menutup otak dan dada mereka untuk memahami Sang Punya Tabir. Mereka tidak berhasil menyandang kualitas manusia yang Ulul Albab. Seorang manusia unggulan yang menjadi tempat Allah menurunkan Rahmat-Nya buat alam semesta …

“Lihat dan dengarkan pulalah bicara-Ku ditabir-Ku yang lain. Tabir si tercover, si kafir. Betapapun mereka berhasil membaca dan mendengarkan setiap pembicaraan- Ku ditabir-tabir- Ku yang mereka iqraa (baca), berapapun mereka berhasil menguak rahasia-rahasia pembicaraan- Ku di tabir-tabir- Ku itu, seberapapun mereka bisa menterjemahkan setiap tabir-Ku menjadi temuan-temuan baru yang sungguh bermanfaat bagi kehidupan umat manusia yang lainnya, namun sedikit sekali mereka yang berhasil menyibakkan tabir-tabir- Ku itu untuk melihat Wajah-Ku.. Sehingga sedikit sekali diantara mereka yang bisa tersungkur dan tersujud dihadapan-Ku. Sedikit sekali, kalau tidak mau dikatakan tidak ada, diantara mereka ada yang mau berterima kasih atas kemurahan-Ku itu.

Kalaupun ada ungkapan terima kasih dari mulut mereka, namun arah kesadarannya tidak tepat mengarah kewajah-Ku. Mereka malah berterima kasih kepada patung, kepada berhala, kepada hamba-Ku (Al Masih Isa anak Maryam) yang dianggap mereka sebagai Tuhan dan anak-Ku. Sungguh sayang sekali mereka bersikap begitu …

Lebih sedikit lagi diantara mereka yang bersedia dada-Nya Kualiri dengan rasa iman yang mencekam, rasa haru yang mencekam, rasa menghamba yang mencekam, rasa menyerah yang mencengkeram. Bahkan rasa takut yang mencekam terhadap keadilan-Ku yang tak terperikan, juga tidak berhasil merembes kedalam hati mereka. Sehingga mereka tetap saja hanya jadi sekedar contoh tabir-Ku tentang orang-orang yang tercover dari Wajah-Ku.

Sungguh Aku sebenarnya telah menyiapkan semua tabir-Ku itu untuk tempat-Ku berbicara kepada hamba-hamba- Ku yang Kupanggil sebagai ULUL ALBAB. Sungguh …!”.

Manusia macam apakah gerangan si Ulul Albab ini . Apakah dia manusia sesuci malaikat ?.

Tapi sebelum sampai ke pembahasan tentang Ulul Albab ini, kita lihat dulu cara Allah berkata-kata berikutnya dengan setiap manusia, yaitu dengan cara mengutus seorang utusan (rasuulan) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sampai jumpa di artikel berikutnya; Iqraa …, Mengintip Citra Para Utusan Tuhan …

inspiring from deka…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: