Oleh: sangabid | Juni 1, 2012

Spiritual Orang Galau

 

Perjalanan spiritual adalah perjalanan yang berbeda dari dari perjalanan fisik karena yang bergerak bukan kaki, tangan atau badan ini. Perjalanan spiritual adalah perjalanan  kesadaran kita dalam mendekati Dia.  Hakikat Ketuhanan tidak pernah salah yang salah adalah  penafsiran kita terhadap pelajaran yang Dia ajarkan pada Kita setiap detik.

 

Ya Allah bila dalam memakrifakan diriku kepada-Mu terdapat banyak kekurangan dan kesalahan ampunilah Aku ya Allah, Aku bersaksi laa Illaha illah, Muhammad Rosulullah.

 

Perjalanan menuju Tuhan tidak semudah kita harapkan. Banyak lubang, banyak persimpangan yang membuat kita bingung,bimbang atau dalam bahasa sekarang galau.  Kebenaran itu dinamis dalam kaca mata manusia. Jadi kita tidak bisa mengklaim merasa  paling benar karena ilmu yang kita dapat sekarang hanya sedikit.

Menurut imam al Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin kegalauan manusia  ada beberapa  faktor:

  1. Galau masalah rizki

Nanti bagaimana jika kita tidak punya uang? bagaimana jika belum punya rumah? Nanti kita makan sama apa? Tabungan semakin menipis, anak-anak gimana sekolahnya. Dan banyak hal lain yang membuat kita galau dalam hal rizki.

  1. Galau dalam hal masa depan

Nanti tahun depan kita bagaimana? Kerja dimana? Bagaimana karir kita. Dan hal lain juga yang kita tidak masa depan kita. Karena masadepan semua  orang misteri  buat manusia.

  1. Galau masalah keselamatandan malapetaka

Wah jangan-jangan nanti ada gempa, ada tsunami. Bagaiaman jika ada banjir? Bagaimana nanti diperjalanan aman tidak ya. Takut mati juga menjadi membuat kita galau.

Untuk menjawab  kegalauan  diatas al Ghazali memberikan tips nya : 1 tawakkal bersandar kepada Allah dalam menghadapai rintangan rizki  2. Pasrah sepenuhnya kepada Allah mengenai semua yang dikhawatirkan 3. Sabar berkenaan dengan datangnya berbagai bencana  4.ridho ketika menghadapi ketentuan Allah. 

Walaupun pada kenyataannya tidak semudah apa yang disampaikan diatas. Banyak rintangan, godaan dan halangan yang selalu mengganggu kita. Halangan bisa dari eksternal  dan  dari internal diri kita. 

Namun inti masalah kegalauan adalah Galau ketika kita tidak mengenal Tuhannya.   Dimana Tuhan Kita? Seperti apa Tuhan Kita? Bagaimana kita mengenal Tuhan kita? Kemana kita menghadapkan jiwa kita? Menurut KH Muhtar Adam inti Islam adalah marifatullah, bagaimana kita mengenal Allah. Ketika kita sudah kenal dekat dengan Tuhan kita Allah Subhaa wata alla maka hidup serasa ringan damai dan adem.

Ketika dekat dengan Allah maka semakin jelas jalan hidup ini. Kita akan memandang dunia semakin terang karena Dia adalah cahaya diatas cahaya. Diam kita semakin bermakna, gerak kita semakin semangat. Karena pendamping kita sang Maha Kuat, Maha baik.    

Saya akan kutip  sebuah kisah  dari Jalaludin Rumi.

Alkisah seorang pencuri masuk kedalam sebuah kebun dan mencuri beberapa buah apricot. Sang pemilik adalah tiba-tiba berada disana dan menangkap basah dia. “apakah kamu takut pada Tuhan?” dia bertanya pada sang pencuri. “mengapa aku harus takut?” jawab lelaki itu. “pohon ini milik Tuhan, buah ini milik Tuhan dan aku adalah milik Tuhan. Hamba Tuhan tidak lain memakan barang milik Tuhan.” Kemudian pemilik kebun memerintahkan para pelayannya untuk menarik dan mengikat lelaki itu dipohon. “ inilah jawabanku,” kata pemilik kebun ketika dia mulai memukul pencuri itu. Sebagai reaksinya pencuri itu berteriak, “ apakah kamu tidak takut Tuhan ?” Dengan tersenyum  pemilik kebun itu menjawab “ mengapa kita harus takut? Ini tongkat Tuhan, tambang Tuhan dan kamu hamba Tuhan, jadi aku sedang memukul hamba Tuhan dengan tongkat Tuhan.”

 Saya tidak Tahu mana yang benar dan mana yang salah. Ada yang cenderung Qodariyah atau juga yang cenderung dengan jabariyah. Kita hanya menjalani hidup sesuai apa yang kita yakini kebenarannya.

Bagaimana kita tahu Tuhan Kita? Yang paling Tahu tentang Kita adalah diri kita sendiri dan yang paling kita tentang Allah adalah Dia sendiri.  Banyak cara kita mengenal Tuhan kita namun hakikatnya Dialah yang memperkenalkan diriNya pada kita.  Al quran telah memaparkannya dengan jelas pada manusia.

 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. “ (Al ‘Alaq 96 : 1-5)

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”  (At Taghabun 64 : 11)

‘’Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.’’ (Al Baqarah  2 : 186)

“Kemana saja menghadap, disana ada wajah Allah.”(QS. Al Baqarah 115)

”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. (Al A’raaf 7 : 54)

llah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”  (Al Baqarah 2 : 255)

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk (hidayah), niscaya Dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Al An’am 6 : 125)

Dan masih banyak lagi alqur’an memaparkan tentang Allah. Semoga Allah member I hidayah pada kita untuk bisa mengenal diriNya, MencintaiNya dan jadi Hamba yang taat.

Ya Allah bila dalam memakrifakan diriku kepada-Mu terdapat banyak kekurangan dan kesalahan ampunilah Aku ya Allah, Aku bersaksi laa Illaha illah, Muhammad Rosulullah.

Referensi:

  1. Berguru pada Allah ; Abu Sangkan
  2. Minhajul Abidin ; Al Ghazali
  3.  Sufi Heritage ; Sayed Husen nashr
  4. Spiritual Quotient : Danah Zohar
  5. Patrap ; Slamet Oetomo
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: